Memahami Shoshana Zuboff tentang Kapitalisme Pengawasan dari Kita Main Mobile Legends

Bagikan

Saya punya temen, Farrel. Dulu dia main Mobile Legends cuma buat have fun.Tapi gara-gara nonton satu video tutorial Fanny (Hero Mobile Legends) di YouTube, hidupnya berubah. Algoritma langsung ngegas kasih konten Mobile legends non-stop di semua akun media sosialnya.

Dalam sebulan, yang tadinya main Cuma buat have fun  dia diberubah jadi Top up jutaan, begadang tiap malam buat push rank, join komunitas. Padahal dulu dia bilang, “Ngapain sih beli skin mas, cuma baju doang itu mah.” Sekarang? “Skin tuh motivasi mas, biar mainnya kompe (niat).”

Dari kasus ini, yang menarik bukan cuma perubahan kebiasaannya, tapi bagaimana platform berhasil mengubah cara dia memandang konsumsi digital.Dari sini saya belajar, platform digital punya kemampuan luar biasa untuk mengubah preferensi dan perilaku kita tanpa kita sadari. Mobile Legends di sini hanya studi kasus, karena fenomena serupa terjadi di semua platform – dari TikTok, Instagram, Netflix, sampai e-commerce.

Saya paham, katanya, era digital itu era transisi besar-besaran dalam cara manusia berinteraksi dengan informasi dan konsumsi. Tetapi, saya sedikit tidak percaya bahwa ini hanya soal teknologi yang membantu. Bagi saya ada sesuatu yang lebih fundamental terjadi yaitu, transformasi manusia dari subjek menjadi objek, dari konsumen menjadi produk. 

Coba refleksi sebentar, saya yakin kita pasti pernah melihat perubahan drastis preferensi teman-teman setelah mereka menggunakan platform tertentu. Yang dulunya cuek sama fashion tiba-tiba obsesi shopping online, yang dulu anti-politik tiba-tiba jadi aktivis medsos. Nah inilah surveillance capitalism, semua bergulir begitu saja dengan algoritma yang menyertainya.

Susahnya Sadar dalam Ekosistem Data Extraction

Saya selalu meyakini, individu tidak pernah bebas dari kekuatan platform digital, termasuk anak muda. Berdasarkan asumsi itu, saya melihat ketidaksadaran akan surveillance capitalism di kalangan anak muda lebih mungkin terjadi ketika mereka terintegrasi terlalu dalam dengan platform-platform yang mengekstrak data behavioral secara masif.

Secara umum, anak-anak muda yang terjebak dalam siklus konsumsi digital karena merasa bahwa itu adalah pilihan bebas mereka, padahal itu hasil manipulasi data yang canggih.Hal ini sangat terlihat dari anak-anak muda yang menggunakan berbagai platform tanpa memahami bagaimana data mereka dikumpulkan, diolah, dan dimonetisasi. Mobile Legends hanya salah satu contoh – mereka berhasil mengubah casual gamer menjadi heavy spender melalui psychological manipulation yang halus.

Saya melihat, semakin mereka terintegrasi dengan ekosistem platform yang mengadopsi surveillance capitalism, mereka akan semakin tidak sadar bahwa mereka sedang dieksploitasi atas nama “personalisasi” dan “user experience”.Pada situasi digital semacam ini, ekstraksi data behavioral bahkan manipulasi preferensi dianggap biasa saja oleh generasi muda yang berpandangan naif Kenapa ini terjadi berulang? karena secara terus-menerus ketidaksadaran ini dipertahankan oleh desain platform yang memang dirancang untuk menyembunyikan proses ekstraksi data.

Anatomy Surveillance Capitalism

            Lalu apa yang sebenarnya terjadi dalam sistem ekonomi digital ini? Jawabannya memang kompleks, tapi kita harus memahami mekanisme surveillance capitalism untuk melindungi otonomi kita sebagai individu.

Pada posisi ini, saya sangat sepakat dengan gagasan Shoshana Zuboff tentang surveillance capitalism. Menurut Zuboff dalam bukunya The Age of Surveillance Capitalism , kita sedang menghadapi sistem ekonomi baru yang mengekstrak data behavioral manusia sebagai bahan baku utama. Karena kalau kita tidak sadar, platform akan menguras habis otonomi kita dalam membuat keputusan.

Lebih lengkapnya, Zuboff menjelaskan bahwa surveillance capitalism memiliki tiga tahap operasi: ekstraksi data behavioral, prediksi perilaku masa depan, dan modifikasi perilaku untuk kepentingan komersial.

  • Ekstraksi: Platform mengumpulkan behavioral surplus – data perilaku yang dikumpulkan melebihi kebutuhan untuk layanan yang dijanjikan. Setiap klik, scroll, pause, bahkan gerakan mata kita jadi raw material yang berharga.
  • Prediksi: Data behavioral ini diolah menggunakan machine learning untuk membuat behavioral futures – prediksi tentang apa yang akan kita lakukan, kapan kita akan membelinya, dan bagaimana kita bisa dipengaruhi.
  • Modifikasi: Yang paling berbahaya, mereka tidak hanya memprediksi perilaku, tapi aktif memodifikasi perilaku untuk mencapai hasil yang diinginkan. Ini yang Zuboff sebut sebagai “instrumentarian power.”

Mobile Legends adalah studi kasus sempurna: mereka ekstrak data gaming behavior , prediksi kapan kita paling rentan untuk spending, lalu modifikasi game experience (buff hero, munculin skin limited) untuk mendorong pembelian. Pada titik ini, saya juga tidak menganjurkan penghindaran platform atau berhenti main mobile legends secara total. Yang bisa kita lakukan adalah meningkatkan literasi digital, memahami bagaimana data kita digunakan, dan menuntut transparansi dari platform tentang praktik data mereka.

Studi Kasus: Mobile Legends sebagai Mesin Behavioral Modification

Untuk memahami surveillance capitalism secara konkret, mari kita lihat bagaimana Mobile Legends menerapkan prinsip-prinsip ini:

  • Behavioral Data Extraction: Setiap aspek gameplay kita direkam, hero yang dipilih, durasi bermain, spending pattern, interaksi sosial dalam game, bahkan emotional response melalui in-game behavior. Data ini jauh melebihi yang dibutuhkan untuk “layanan gaming.”
  • Algorithmic Manipulation: Hero dibuff strategis sebelum skin release. Matchmaking algorithm diatur untuk menciptakan frustrasi yang tepat. Event dan promo muncul pada timing psikologis yang optimal berdasarkan behavioral pattern.
  • Monetization Through Prediction: Platform tau kapan kita lagi stress, kapan lagi happy (lebih social), kapan punya uang (spending pattern dari data eksternal), dan kapan paling vulnerable untuk microtransaction. Yang menarik, kita merasa “memilih” untuk beli skin atau top up diamond. Padahal choice architecture-nya udah didesain sedemikian rupa sehingga keputusan kita predictable dan profitable bagi platform.

Zuboff nyebut ini sebagai “instrumentarian power” kekuasaan yang bekerja melalui modifikasi perilaku, bukan coercion langsung. kita tidak dipaksa, tapi dikondisikan untuk “mau” melakukan sesuatu.

Mobile Legends hanya satu contoh. Pola yang sama terjadi di TikTok (addiction through intermittent reinforcement), Instagram (self-esteem manipulation), Netflix (emotional state prediction untuk content recommendation), dan semua platform yang mengadopsi attention economy model. Semua itu bukan insight random. Mereka dapat dari ribuan  hasil ekstaksi data digital kita (heart rate, facial expression), behavioral data (scroll speed, click pattern), contextual data (location, time, weather), dan social data (network analysis, influence mapping).

Yang paling menakutkan, semua ini terjadi tanpa consent yang meaningful. kita klik “setuju” terms and conditions tanpa baca, dan tiba-tiba behavioral surplus kita jadi komoditas di behavioral futures market. Inilah surveillance capitalism dalam kehidupan sehari-hari kita. Kita merasa bebas memilih, padahal choice architecture kita sudah dikondisikan sedemikian rupa. Platform tidak memaksa, tapi menciptakan kondisi di mana kita merasa “harus” melakukan sesuatu. Yang paling berbahaya, kita tidak menyadari bahwa autonomy kita sedang systematically undermined.


Bagikan

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top