Setiap kali ada pengumuman job fair yang diselenggarakan pemerintah membuat semangat pencari kerja biasanya langsung naik 100%. Harapannya sederhana: pulang bawa kabar gembira, bukan cuma goodie bag dan pegal di kaki. Tapi sayangnya, seringkali ekspektasi itu mentok di realita.
Data vs Realita: Kok Masih Banyak yang Nganggur?
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah orang yang belum mendapatkan pekerjaan mencapai 7,28 juta orang per Februari 2025 secara tahunan (year on year/yoy), bertambah 83,45 ribu dibandingkan Februari 2024. Sementara itu, jumlah seluruh angkatan kerja di Indonesia per Februari 2025 mencapai 153,05 juta. Dengan demikian, tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mencapai 4,76 persen per Februari 2025. Pada tahun 2024 saja misalnya Pemerintah provinsi DKI Jakarta melakukan kegiatan jobfair setiap bulan di 44 kecamantan. Namun tingkat pengangguran terbuka di Jakarta pada Agustus 2024 masih mencapai 6,21%, lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 4,91%. Artinya? Job fair yang gencar digelar belum tentu berdampak signifikan.
Job Fair Zaman Now: Banyak Janji, Minim Hasil?
Jobfair seakan membuka pintu harapan untuk mempertemukan antara pencari kerja dengan Perusahaan yang membuka lowongan bekerja. Acara ini diharapkan mampu mengeksplorasi berbagai macam alternatif pilihan bidang dan profesi dalam dunia kerja. Ribuan pencari kerja datang dengan penuh harapan sambil membawa map lamaran berisi CV hingga kadang surat lamaran tulis tangan. Bahkan untuk masuk ke dalam Jobfair saja mereka rela antri dari pagi agar bisa menjadi yang pertama masuk ke dalam jobfair. Harapan ribuan pencari kerja langsung melambung Ketika mendengar pengumuman akan dilakukannya jobfair. “Mungkin ini saatnya dapat kerja,” pikir banyak orang. Tapi sayangnya, realita tak semanis rasa gula. Banyak para pencari kerja yang harus pulang dengan rasa kecewa.
Bahkan tak jarang ada yang menganggap bahwa Jobfair hanya sekedar formalitas semata. Ada yang beranggapan bahwa Perusahaan yang mengikuti jobfair belum tentu membuka lowongan pekerjaan tersebut. Ada Perusahaan yang sekedar ikut hanya karena sebuah kewajiban atau bahkan ada yang ikut hanya untuk melihat data terbaru minat pekerja terhadap suatu lowongan yang ada.
Selain itu proses yang ada pada Jobfair juga terkesan tidak efektif. Pada era digital saat ini, jobfair mengarahkan Perusahaan untuk membuka booth secara offline namun pada akhirnya mereka tetap mengarahkan pelamar untuk melamar atau mengisi form lamaran secara online. Job fair jadi mirip bazar—banyak booth, ramai orang, tapi sepi hasil rekrut.
Terus, Gimana Dong?
Tenang. Meski pahit, bukan berarti semua job fair itu sia-sia. Tapi realistis aja, jangan terlalu berharap langsung dapat kerja dari sana. Beberapa tips biar nggak buang waktu:
- Cek perusahaan yang benar-benar aktif rekrut di JobStreet, LinkedIn, atau Kalibrr
- Manfaatin relasi buat dapet jalur referensi
- Kalau mau datang ke job fair, pastikan siapkan pertanyaan & targetkan booth yang tepat, jangan cuma keliling ambil goodie bag
- Upgrade skill terus, apalagi yang sekarang banyak dibutuhin kayak data, IT, digital marketing, dll
Tips Realistis Cari Kerja Zaman Sekarang
- Cek lowongan di platform terpercaya seperti JobStreet, Kalibrr, LinkedIn, Glints
- Tingkatkan skill sesuai kebutuhan pasar (digital marketing, IT, data analysis, dll)
- Manfaatkan relasi untuk cari tahu ada lowongan atau nggak
- Ikut komunitas profesional yang sesuai bidang kamu
- Kalau ke job fair, riset dulu: cek perusahaan yang benar-benar hiring aktif
Job Fair Layak Diperbaiki, Bukan Ditinggalin
Kalau ditanya, “Masih perlu ke job fair nggak sih?” Jawabannya: tergantung tujuanmu.
Kalau buat networking, cari info, atau latihan wawancara cepat, it’s still useful. Tapi kalau berharap langsung pulang bawa kerjaan? Ya… pelan-pelan aja dulu.
Dan yang paling penting: pemerintah juga perlu evaluasi sistem job fair. Bukan cuma seremonial, tapi benar-benar jadi platform yang relevan di era digital kayak sekarang.


