Bagaimana Gerakan Anak Muda Berperan dalam Mengubah Sistem? Belajar dari Habermas dan Ranciere

Bagikan

Ditulis Oleh : Arya Aditia, Head of Youth Policy Warga Muda
Anak muda dianggap sebagai entitas yang memiliki idealisme dan kesadaran penuh akan perubahan. Upaya dalam mewujudkan perubahan seringkali dimanifestasikan dalam bentuk gerakan yang digunakan sebagai sarana dalam mengintervensi sistem yang ingin diperbaiki.

Di negara demokrasi, gerakan anak muda bertumbuh dengan subur karena konsekuensi logis dari sistem ini adalah terbukanya kesempatan bagi siapapun untuk mendapatkan hak yang sama dalam mengekspresikan pandangannya. Gerakan anak muda dipandang penting dan selalu mengambil momen yang menentukan bagi kemajuan suatu negara. 

Misalnya di Indonesia. Momentum bersejarah yang menentukan perubahan Indonesia dari masa ke masa diwarnai oleh gerakan anak muda. Bahkan Benedict Anderson menyebut bahwa kemerdekaan Indonesia adalah bagian dari revolusi pemuda. Lantas, bagaimana sebetulnya gerakan anak muda dapat mengubah kebijakan? 

Belajar dari Habermas dan Ranciere

Ada pandangan menarik dari dua seorang filsuf yang berasal dari Jerman (Jurgen Habermas) dan Prancis (Jacques Ranciere). Kedua filsuf ini memiliki pandangan yang sangat bertentangan mengenai gerakan sosial. Jurgen Habermas yang dikenal dengan pendekatan konsensus-reformisnya serta Jacques Ranciere dengan pendekatan disensus-radikal tentunya melahirkan tujuan, strategi, dan gaya gerakan yang berbeda-beda. 

Pertama, dari sisi tujuan gerakan. Habermas akan berbicara bahwa gerakan sosial sebaiknya bertujuan untuk mempengaruhi opini publik, menyusun argumen rasional, dan menekan sistem untuk berubah. Kemenangan dari gerakan sosial yang dianggap oleh Habermas adalah berubahnya kebijakan. Sementara itu, dari sisi Ranciere akan menyampaikan bahwa gerakan sosial bukan hanya soal kebijakan, tetapi mengungkap ketidaksetaraan yang tersembunyi. Ranciere percaya bahwa tugas gerakan adalah mengguncang kesadaran dan memperlihatkan bahwa ada orang-orang yang perlu di dengar dari sebuah sistem. Ini adalah bentuk kemenangan sejati dari sebuah gerakan kalau kata Ranciere. 

Kedua, dari sisi strategi gerakan. Habermas akan menyarankan bahwa gerakan harus masuk ke dalam ruang publik yang rasional dengan mendorong diskusi yang deliberatif karena Ia percaya bahwa sistem bisa diperbaiki dari dalam. Sementara itu, Ranciere mendorong gerakan untuk mengganggu sistem yang ada karena Ia percaya bahwa sistem hanya menerima suara yang “masuk akal” bagi elit. Ini adalah bagian dari politik disensus dimana yang terpenting adalah momen ketika suara yang tak diakui dapat didengar dan mendorong adanya perubahan sistem. 

Ketiga, dari aspek gaya gerakan. Habermas akan menyarankan menggunakan gaya bahasa yang rasional dan deliberatif dengan fokus pada argumen yang dapat diterima oleh semua pihak (konsensus). Sementara itu, Ranciere akan menyarankan gerakan dengan bahasa yang mengguncang bahwa kalau perlu mengagitasi banyak orang. 

Contoh kasus yang paling dekat dengan kita adalah peristiwa Reformasi 98. Sangat terlihat jelas dua gerakan anak muda dalam proses reformasi tersebut. Satu sisi ada pihak yang melakukan demonstrasi dan menantang sistem dari luar (kelompok Budiman Sudjatmiko, Adian Napitupulu) dan di sisi lain ada pihak yang masuk dalam sistem dan menjadi representasi suara anak muda (kelompok Fadli Zon, Fahri Hamzah). 

Melalui hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa jika kamu mengikuti Habermas, kamu sedang membangun strategi reformis yang mana fokus pada argumen dan representasi dalam sistem. Sementara itu, jika kamu mengikuti Ranciere, kamu akan mendorong aksi yang radikal, menentang sistem dari luar, dan fokus pada perubahan tatanan sosial. Lantas, kamu berada di posisi reformis atau radikalis? 

Pendekatan Integratif dalam Gerakan Anak Muda

Di era modern, nampaknya gerakan anak muda semakin menemukan bentuknya. Tidak lagi hanya fokus pada pendekatan konsensus-reformis ataupun disensus-radikal, tetapi juga menggabungkan kedua pendekatan itu ditambah dengan penetrasi institusional. Apa artinya? 

Pertama, dalam rangka menggugah kesadaran publik akan adanya kesalahan pada sistem sehingga merugikan banyak masyarakat diperlukan pendekatan disensus-radikal. Yang mana dibutuhkannya narasi yang sifatnya agitasi dan mengguncang sehingga mendorong pemerintah untuk membuka ruang dan juga mengajak masyarakat untuk berbaris dalam gerakan yang sama.

Kedua, setelah ruang terbuka dan masyarakat berkumpul dalam satu visi gerakan maka selanjutnya adalah menggunakan pendekatan konsensus-reformis dimana ruang-ruang yang terbuka dimanfaatkan untuk menyampaikan argumentasi yang rasional dan deliberatif. Fokusnya adalah menyampaikan aspirasi dari masyarakat dengan baik sehingga sistem dapat berubah dengan kebijakan yang diinginkan.

Ketiga, yang terpenting dalam proses mengubah sistem adalah melakukan penetrasi institusional. Artinya, sistem yang ingin diubah tidak hanya disuarakan, tetapi juga membutuhkan instrumen dalam mengubahnya. Contohnya menawarkan policy brief yang menjadi rekomendasi kebijakan baru. 

Jadi, dari penjelasan di atas, kalian memilih sebagai kaum Habermas atau kaum Ranciere? 


Bagikan

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top